Gayo Lues (delapantoto)— Di posko-posko pengungsian, suasana mulai berubah. Kasur lipat yang semula penuh kini satu per satu kosong, dapur umum beralih dari ritme darurat ke layanan terbatas, dan warga perlahan kembali menengok rumah mereka. Jumlah pengungsi di Kabupaten Gayo Lues dilaporkan berangsur berkurang, seiring surutnya genangan dan membaiknya kondisi cuaca.
Bagi warga, kepulangan ini bukan sekadar pulang alamat—melainkan pulihnya rutinitas. Namun prosesnya dijalani dengan hati-hati, memastikan rumah aman dihuni dan kebutuhan dasar terpenuhi.
Air Surut, Kewaspadaan Tetap
Turunnya debit air membuka akses jalan dan memudahkan pembersihan permukiman. Petugas kebencanaan bersama relawan membantu warga membersihkan lumpur, memeriksa instalasi listrik, dan memastikan sumber air bersih aman digunakan. Keamanan publik tetap menjadi fokus: warga diimbau kembali secara bertahap, terutama di titik-titik yang masih rawan.
Pemantauan cuaca dan aliran sungai terus dilakukan agar kepulangan tidak berubah menjadi risiko baru.
Dari Posko ke Rumah
Di posko, cerita-cerita kecil menandai perubahan besar. Anak-anak mulai kembali bersekolah, lansia mendapatkan pemeriksaan kesehatan lanjutan, dan keluarga menghitung kerusakan sambil menyusun rencana perbaikan. “Pelan-pelan kami pulang, lihat kondisi dulu,” ujar seorang warga. Kalimat sederhana itu menggambarkan pemulihan yang realistis—tidak tergesa, namun penuh harap.
Peran Negara dan Tata Kelola Pemulihan
Penanganan pascabanjir menuntut koordinasi berkelanjutan. BPBD Aceh bersama dinas terkait memastikan bantuan tetap mengalir untuk warga yang belum bisa kembali—mulai dari logistik, layanan kesehatan, hingga pendampingan psikososial. Transparansi data dan pembaruan berkala penting agar bantuan tepat sasaran dan akuntabel.
Dalam kerangka hukum kebencanaan, fase transisi ini krusial: dari tanggap darurat menuju pemulihan awal.
Luka yang Disembuhkan Bersama
Meski pengungsi berkurang, dampak banjir belum sepenuhnya hilang. Sebagian rumah masih rusak, kebun tergenang, dan mata pencaharian perlu waktu untuk pulih. Di sinilah solidaritas bekerja—tetangga saling membantu, relawan bertahan, dan aparat mendampingi.
Kemanusiaan hadir dalam bentuk paling nyata: memastikan tak ada yang tertinggal saat sebagian besar telah kembali.
Menjaga Momentum Pulih
Pengurangan jumlah pengungsi adalah kabar baik, namun bukan garis akhir. Warga dan pemerintah daerah menatap tahap berikutnya: perbaikan infrastruktur, mitigasi risiko ke depan, dan penguatan kesiapsiagaan. Karena ketahanan bukan hanya soal bangkit, tetapi siap menghadapi ulang.
Di Gayo Lues, langkah pulang dilakukan perlahan—dengan doa, kewaspadaan, dan keyakinan bahwa pemulihan akan terus bergerak maju.



