Jakarta (initogel) — Di tengah sorotan global terhadap disiplin fiskal, pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa datang dengan nada menenangkan: pelebaran defisit APBN 2025 dinilai tidak akan mengganggu sentimen pasar. Bagi investor dan pelaku usaha, pesan ini penting—bukan semata soal angka, melainkan kepastian arah kebijakan.
Di balik istilah teknis fiskal, ada keresahan yang nyata: apakah belanja negara yang melebar akan memicu gejolak suku bunga, menekan rupiah, atau mengganggu pasar obligasi? Purbaya menilai kekhawatiran itu berlebihan jika dilihat dalam konteks kebijakan yang terukur dan kredibel.
Mengapa Defisit Tak Otomatis Mengguncang Pasar
Menurut Purbaya, pasar keuangan membaca kualitas kebijakan, bukan hanya besaran defisit. Selama pelebaran dilakukan:
terukur dan sementara,
diarahkan untuk program produktif (perlindungan sosial, infrastruktur prioritas, penguatan layanan publik),
serta didukung strategi pembiayaan yang prudent,
maka sentimen cenderung tetap stabil. Investor menilai konsistensi, koordinasi, dan transparansi sebagai faktor utama.
Kepercayaan Dibangun dari Konsistensi
Pasar modal dan obligasi sensitif terhadap sinyal. Namun pengalaman menunjukkan, rekam jejak pengelolaan fiskal yang konsisten mampu menjadi jangkar. Komunikasi kebijakan yang jernih—menjelaskan tujuan belanja, sumber pembiayaan, dan rencana konsolidasi—membantu pasar menilai dengan kepala dingin.
Purbaya menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal–moneter agar likuiditas terjaga dan volatilitas tidak membesar.
Keamanan Ekonomi Publik
Di luar pasar, dampak kebijakan fiskal menyentuh keamanan ekonomi rumah tangga. Pelebaran defisit yang tepat sasaran dapat:
menjaga daya beli,
menopang pemulihan sektor riil,
dan meredam risiko sosial saat ekonomi global melambat.
Ketika belanja negara bekerja efektif, manfaatnya terasa langsung—dari stabilitas harga hingga kesempatan kerja.
Dimensi Kemanusiaan di Balik APBN
APBN bukan sekadar neraca. Ia adalah instrumen empati negara. Anggaran yang fleksibel memberi ruang respons cepat saat warga membutuhkan—bencana, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan kelompok rentan. Purbaya mengingatkan, pasar yang matang memahami bahwa ketahanan sosial adalah bagian dari ketahanan ekonomi.
Seorang pelaku pasar pernah berkata, “Yang kami cari kepastian.” Kepastian itu lahir ketika kebijakan fiskal punya tujuan jelas dan dijalankan konsisten.
Risiko Tetap Dikelola
Tentu, kewaspadaan tetap diperlukan. Pengelolaan utang, biaya bunga, dan efektivitas belanja harus dipantau ketat. Di sinilah akuntabilitas berperan—agar pelebaran defisit tidak berubah menjadi beban struktural.
Purbaya menilai, selama disiplin ini dijaga, pasar akan menghargai keberanian kebijakan yang berpihak pada pemulihan dan pertumbuhan berkualitas.
Penutup
Pernyataan Purbaya bahwa pelebaran defisit APBN 2025 tak memengaruhi sentimen pasar menegaskan satu hal: kepercayaan dibangun dari kualitas kebijakan, bukan ketakutan pada angka. Dengan komunikasi yang jernih, koordinasi kuat, dan fokus pada manfaat nyata, pasar punya alasan untuk tetap tenang.
Pada akhirnya, APBN yang bekerja baik menenangkan pasar—dan yang lebih penting, menenangkan warga.



